PROFIL
PEMBINA YAYASAN
KARANTINA TAHFIZH NASIONAL
Dr. K.H.
Ahsin Sakho Muhammad, MA. ialah seorang pakar ilmu-ilmu Al-Qur’an dan bahkan menguasai qiroah
asyrah. Beliau lulus sebagai doktor universitas di Madinah dengan cumlaude. Alhamdulillah beliau di Yayasan Karantina Tahfizh
Nasional ini sebagai pembina
yang akan membimbing dan memotivasi belajar Al-Qur’an dengan sistem percepatan sebulan
hafal Al-Qur’an namun tetap menjaga kualitas dan kuantitas baik secara hafalan
maupun pemahaman tafsir.
Pengalaman beliau sejak
2 November 2005, menjabat rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta,
perguruan tinggi yang mencetak para ahli Al-Quran. Posisi ini sebelumnya
diduduki tokoh-tokoh yang terkenal pakar di bidang ilmu-ilmu Al-Quran, seperti
Prof. K.H. Ali Yafie (2001-2005), sementara rektor sejak IIQ berdiri adalah
Prof. H. Ibrahim Hosen (1977-2001).
Bukan
itu saja tugas yang diemban pria yang tenang, santun, dan ramah ini. Kini ia
juga dipercaya sebagai ketua Tim Revisi Terjemahan dan Tafsir Al-Quran
Departemen Agama, yang beranggotakan beberapa pakar ilmu Al-Quran, seperti
Prof. Dr. H. Huzaimah T. Yanggo, Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, Prof. H. Ali
Mustafa Ya’qub, Dr. Hj. Faizah Ali Syibromalisi, dan beberapa pakar lain. Tim
ini telah bekerja sejak 2004 dan menuntaskan tugas pada 2007.
Keahliannya dalam ilmu Al-Qur’an membawanya keliling
berbagai negara baik untuk mengajar Al-Qur’an maupun menjadi imam shalat
tarawih. Meskipun begitu, beliau tetap tinggal bersama keluarganya di Cirebon.
Aktifitas sehari-hari biasanya setiap minggu ia bolak-balik Jakarta-Cirebon. Senin sampai Kamis ia di Jakarta, hari-hari lain dihabiskan di Cirebon untuk mengajar di pesantren.
Menurutnya resep menghafal Al-Qur’an ada banyak faktor,
salah satunya adalah doa dari orang tua. Orang tua yang rajin mendoakan dan
membimbing anaknya sangat besar kemungkinan anak dapat mencapai harapan orang
tua.
Pendidikan beliau mulai dari SD dan SMP Arjawinangun. Sedangkan dasar-dasar ilmu agama ia
pelajari di pesantren milik keluarganya. Selama tiga tahun sejak 1970 ia
melanjutkan pelajaran di Pesantren Lirboyo, Kediri, sambil belajar di SMU.
Sejak lama, Pesantren Lirboyo banyak meluluskan para ulama. Di pesantren terkemuka itu beliau
belajar fiqh dan ilmu-ilmu alat, seperti nahwu, sharaf, dan sebagainya.
Sementara di saat libur panjang ia menimba ilmu di pesantren lain. Antara lain,
ia pernah mengaji kepada K.H. Umar Abdul Manan (Solo) dengan menyetorkan
hafalan-hafalan Al-Qurannya. Meski tidak lama belajar kepadanya, tidak sampai
dua bulan, ia merasa sangat beruntung, karena bisa memperoleh syahadah sanad
dari sang guru.
Sewaktu di Ponpes
Krapyak tidak semua orang – termasuk para santri yang sudah lama
belajar kepada beliau – yang bisa mendapatkan sanad.
Sertifikat sanad dari Kiai Umar memang sangat didambakan. Dengan kelulusan sertifikat itu terjaminlah bacaan yang benar, bagus, dan
fasih. Juga menunjukkan bobot intelektualitas dan tanggung jawab sebagai
seorang hafizh Al-Quran.
Keinginanannya
yang kuat untuk mendalami Al-Quran membawanya meneruskan belajar di Pondok
Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta (1973- 1976). Ia juga sempat belajar
kepada K.H. Arwani (Kudus). Tetapi ketika baru berjalan sekitar dua bulan, ia
diminta pulang ke Cirebon untuk menyiapkan keberangkatannya ke Makkah. “Meski
demikian, bagi seorang santri, sesingkat apa pun masa belajarnya, ia harus bisa
menyerap berbagai ilmu, termasuk akhlk dan keteladanan gurunya,” katanya.
Bulan
Agustus 1976 menandai era baru dalam hidupnya. Ia berangkat ke Arab Saudi untuk
mendalami ilmu-ilmu agama sebagaimana cita-cita orangtuanya. Mula-mula ia
belajar di Makkah. Sekitar satu tahun, 1976-1977, ia mengaji Al-Quran di
Masjidil Haram di bawah bimbingan Syekh Abdullah Al-`Arabi, seorang Mesir yang
didatangkan oleh Jamaah Tahfizh Al-Quran. Di Masjidil Haram memang banyak
kegiatan, salah satunya dikoordinasikan oleh lembaga tersebut
Ketika
itu yang memimpin lembaga tersebut ialah Syekh Shalih Al-Qazzaz, mantan sekjen
Rabithah `Alam Islami. Yang juga banyak berperan di lembaga ini ialah Syekh
Ibrahim Sa`d, seorang Mesir yang mengatur metode menghafal Al-Quran. Masa itu
merupakan kebangkitan Tahfizhul-Qur’an di Arab Saudi. Hal ini tidak terlepas
dari partisipasi para masyaikh qurra’ (guru-guru para pembaca Al-Quran) yang
berasal dari Mesir, baik di Makkah, Jeddah, Madinah, maupun yang lainnya.
Pengajian
di Masjidil Haram ia ikuti pagi hari, sedang sore harinya ia menuntut ilmu di
Markaz Ta`lim al-Lughah al-`Arabiyyah. Karena sudah hafal Al-Quran, ketika
belajar ia hanya “menyetor” hafalan dan mendalami bacaannya. Di akhir tahun, ia
mengikuti ujian dan lulus, mendapat syahadah yang menyatakan bahwa yang
bersangkutan dapat membaca Al-Quran secara hafalan dari awal hingga akhir.
Pada
1977 ia berangkat ke Madinah al-Munawarah untuk mengikuti kuliah di Fakultas
Kulliyatul-Qur’an wa Dirasah Islamiyyah dari Al-Jami`ah Al-Islamiyah. Di sini
ia tak mengalami kesulitan berarti, semua berjalan lancar tanpa hambatan.
Apalagi ia mendapat beasiswa 200 dolar atau 775 riyal per bulan. Pemberian
beasiswa itu, selain sebagai penghargaan bagi mereka yang mempelajari dan
menghafal Al-Quran, juga untuk memotivasi para mahasiswa yang kuliah di
fakultas tersebut.
Selepas
menamatkan pendidikan kesarjanaan, ia melanjutkan ke program pascasarjana di
universitas yang sama mengambil Jurusan Tafsir dan Ilmu Al-Quran, selesai pada
1987 dengan tesis Sejarah Perkembangan Ulumul Qur’an. Sedang untuk disertasi ia
menulis tahqiq (menulis dan meneliti kembali) kitab At-Taqrib wal-Bayan fi
Ma`rifati Syawadzil-Qur’an, karya Ash-Shafrawi, ulama asal Iskandariyah, Mesir,
kelahiran 636 H/1216 M.
Dan
akhirnya ia meraih gelar doktor dengan Yudisium Mumtaz Syaraful ‘Ula (cumlaude)
pada 1989. Praktis selama 12 tahun, sejak 1977, ia menghabiskan masa mudanya di
Jam’iyyah Al-Islamiyyah, Madinah. Di antara teman dari tanah air yang belajar
di sana tapi beda angkatan adalah Hidayat Nur Wahid (ketua Majelis
Permusyawaratan Rakyat) dan Salim Seggaf Al-Jufri (dubes RI di Arab Saudi). Usai
belajar di Madinah, ia kembali mengajar di Pondok Pesantren Darut Tauhid,
Cirebon, yang diasuh oleh pamannya, K.H. Ibnu Ubaidillah.
Penguasaannya
yang mendalam tentang ilmu-ilmu Al-Quran menarik perhatian banyak kalangan.
Maka pada 1992, ia diajak oleh K.H. Syukron Makmun, pengasuh Pondok Pesantren
Darul Rahman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk ikut mendirikan Institut
Islam Darul Rahman. Pada tahun itu juga ia mengajar di Perguruan Tinggi Ilmu
Al-Quran (PTIQ) dan di Institut Agama Islam Negeri (kini Universitas Islam
Negeri, UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Beberapa tahun kemudian ia diangkat
sebagai pengajar tetap di IAIN hingga kini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan tanyakan apabila ada yang belum jelas!